Kucing-kucing milik anggota parlemen Indonesia telah menjadi simbol tak terduga dari protes.

Kucing-kucing milik anggota parlemen Indonesia telah menjadi simbol tak terduga dari protes.

Kucing-kucing milik anggota parlemen Indonesia telah menjadi simbol tak terduga dari protes.

Taruhan bola – Selama protes massal baru-baru ini di Indonesia, rumah-rumah politisi di Jakarta yang dijarah mengungkapkan korban tak terduga: kucing-kucing yang dilaporkan ditinggalkan atau dicuri saat pemiliknya melarikan diri untuk menyelamatkan diri. Kucing-kucing tersebut menjadi viral di media sosial. Pemilik kucing tersebut — selebriti yang menjadi anggota parlemen (MP) Uya Kuya dan Eko Patrio dari Partai Mandat Nasional (PAN) — dituduh “meninggalkan” hewan peliharaan mereka.

Ini adalah tuduhan yang mereka tolak, dengan alasan mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengambil kucing-kucing tersebut sebelum melarikan diri dari para penjarah. Terlepas dari kebenaran yang sebenarnya, gambar-gambar kucing-kucing yang ketakutan yang diselamatkan oleh warga yang peduli telah menyentuh hati masyarakat Indonesia yang gila kucing. Para demonstran dan netizen dengan cepat melihat insiden ini sebagai simbol pengkhianatan politisi terhadap kewajiban mereka terhadap kelompok paling rentan di masyarakat.

Memuat konten Instagram Hewan peliharaan adalah politik Kucing sangat populer di Indonesia, yang memiliki tingkat kepemilikan kucing tertinggi di Asia-Pasifik. Indonesia adalah negara mayoritas Muslim, dan status tinggi kucing di. Dalam Islam, hal ini mungkin dapat menjelaskan mengapa kucing begitu populer di sana.

Di luar makna budaya kucing, insiden-insiden terbaru juga memberikan wawasan tentang sifat pembentukan citra politik di Indonesia. Suara-suara Indonesia yang tidak dapat diabaikan lagi Pemerintah Indonesia tidak memiliki oposisi yang kuat atau sistem checks and balances yang efektif. Hal ini memungkinkan politisi bertindak demi kepentingan pribadi, memperdalam jurang antara elit penguasa dan warga biasa.

Fenomena politisi menggunakan kucing dan hewan lain untuk meningkatkan popularitas mereka tentu bukan hal baru, dan juga bukan hal yang unik di Indonesia.
Dari kucing perang Winston Churchill, Nelson, hingga kucing Bill Clinton, Socks, atau “kucing pemburu tikus utama” Downing Street, Larry, politisi telah lama menggunakan kucing peliharaan untuk secara hati-hati membentuk citra publik mereka sebagai sosok yang hangat, ramah, mudah didekati, dan berbelas kasih. Contoh utama dari Indonesia adalah Presiden Prabowo Subianto dan kucing tabby penyelamatnya, Bobby Kertanegara.

Bobby memiliki hampir 1 juta pengikut di Instagram. Ima Gaya Prabowo yang memberi makan, bermain, dan memeluknya membantu mengubah citra publik mantan jenderal tentara tersebut menjelang pemilihan presiden tahun lalu. Ia berubah dari sosok kuat dengan rekam jejak hak asasi manusia yang dipertanyakan menjadi seorang kakek yang ramah, manis, dan mencintai hewan.

Kini, “kucing pertama” Indonesia, Bobby, diangkut dengan kereta dorong mewah untuk hewan peliharaan dan memiliki tim keamanan sendiri. Ia hadir dalam acara negara di mana ia menerima hadiah dari pemimpin asing. Salah satunya adalah syal khusus yang baru-baru ini diterima Bobby dari Perdana Menteri Australia Anthony Albanese.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan mantan Gubernur Jakarta serta calon presiden 2024 Anies Baswedan juga menggunakan hewan peliharaan mereka untuk memperkuat citra publik mereka di Indonesia.
Muat. Demonstrasi terbaru Demonstrasi terbaru di Jakarta dipicu oleh usulan kenaikan tunjangan anggota parlemen, tetapi juga oleh ketidakpuasan umum terhadap kelas politik.

Kemarahan semakin memuncak akibat liputan tentang gaya hidup mewah para politisi, sementara. Banyak warga Indonesia kesulitan menghadapi biaya hidup yang tinggi dan tingkat pengangguran pemuda yang tinggi. Selama protes baru-baru ini, beberapa politisi terkemuka rumahnya dijarah.

Kuya dan Patrio dilaporkan meninggalkan kucing-kucing mereka, beberapa di antaranya diambil oleh para penjarah atau diselamatkan oleh warga yang peduli.
Meskipun banyak klaim ini dibantah oleh para politisi, komentar di postingan viral menanyakan: jika politisi tidak bisa bertanggung jawab atas hewan peliharaan mereka sendiri, bagaimana mereka bisa dipercaya untuk merawat warga yang seharusnya mereka wakili? Pembentukan citra politik Perhatian media sosial terhadap kucing-kucing ini segera memicu respons dari pemiliknya.

Baik Kuya maupun Patrio membantah klaim bahwa kucing-kucing tersebut “ditinggalkan”. Mereka berargumen bahwa tidak ada kesempatan untuk membawa kucing-kucing tersebut saat rumah mereka menjadi sasaran penjarahan, dengan hewan-hewan tersebut melarikan diri sendiri. Krisis kucing liar di Jakarta Di kota dengan hingga 1,5 juta kucing liar, dokter hewan di Jakarta berbeda pendapat tentang cara menangani krisis ini, tetapi beberapa di antaranya.

Mereka secara diam-diam mengambil tindakan sendiri. Keduanya telah meminta agar hewan peliharaan mereka dikembalikan, yang mendapat dukungan dari sebagian netizen. Namun, kerusakan pada reputasi para politisi sudah terjadi.

Di era media sosial, hewan peliharaan terbukti menjadi pedang bermata dua. Dulu digunakan untuk melunakkan citra politisi dan menggalang dukungan publik, kucing-kucing ini kini terseret ke dalam narasi yang menggambarkan politisi sebagai sosok yang tidak peduli dan tidak peka. Mereka menjadi metafora bagi apa yang dianggap oleh sebagian orang sebagai pengkhianatan elit terhadap rakyat.

Insiden kucing ini juga mengungkap sifat rapuh dari pembentukan citra politik di era media sosial.
Dulu, media sosial memfasilitasi penggunaan hewan peliharaan politik untuk memicu kekaguman publik, kini media sosial menjadi sarana untuk reaksi balik. Artikel ini pertama kali diterbitkan di The Conversation.

Ken M.P. Setiawan adalah dosen senior dalam Studi Indonesia di Universitas Melbourne, Charlotte Setijadi adalah dosen dalam Studi Asia di Universitas Melbourne.

Elisabeth Kramer adalah Dosen Senior Scientia dalam bidang politik dan kebijakan publik di UNSW.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *