Indonesia masuk lima besar dalam ekspor besi dan baja melalui hilirisasi.
Liga335 – Jakarta () – Indonesia masuk dalam lima besar eksportir produk besi dan baja terbesar di dunia di tengah upaya pemerintah untuk meningkatkan nilai sumber daya nasional melalui agenda hilirisasi, seperti yang ditekankan oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso. Selama pertemuan dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta pada Rabu, ia mencatat bahwa Indonesia telah naik dari peringkat ke-17 pada 2019 menjadi peringkat kelima saat ini, berada di belakang China, Jerman, Jepang, dan Korea Selatan. Ia mengaitkan kemajuan signifikan ini dengan upaya hilirisasi dan penguatan kapasitas industri dalam negeri.
Menteri tersebut mengatakan perkembangan ini tercermin dalam tren perdagangan yang menguntungkan selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2023, Indonesia mencatat surplus sebesar US$15,07 miliar dalam neraca perdagangan besi dan baja, dengan ekspor senilai US$25,80 miliar. Pada tahun 2024, lanjut dia, surplus meningkat menjadi US$18,44 miliar, karena negara ini mengekspor besi dan baja senilai US$27,97 miliar, sementara impor menurun menjadi US $9,53 miliar.
“Surplus neraca perdagangan yang beruntun ini sejalan dengan posisi Indonesia yang semakin kuat dalam perdagangan global,” tambah Santoso. Data Kementerian menunjukkan bahwa Indonesia telah mempertahankan surplus dalam perdagangan besi dan baja sejak setidaknya tahun 2020, dengan US$6,85 miliar pada 2020, US$11,96 miliar pada 2021, US$13,93 miliar pada 2022, dan US$11,40 miliar pada 2023. Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Industri Faisol Riza memaparkan kepada anggota parlemen tentang peningkatan tajam volume ekspor baja Indonesia selama enam tahun terakhir, dari 9,3 juta ton pada 2020 menjadi 23,97 juta ton pada 2025.
Sementara itu, impor yang mencapai 17,9 juta ton pada 2022 turun menjadi 14,8 juta ton pada tahun lalu, katanya. Pejabat tersebut menekankan bahwa tren tersebut mencerminkan kombinasi dari kebijakan hilirisasi pemerintah, peningkatan produksi domestik, dinamika harga global, dan faktor geopolitik. Ia juga menggambarkan perkembangan tersebut sebagai bukti kesuksesan Indonesia dalam meningkatkan daya saing industri baja industri baja.