BMKG memperkirakan suhu panas di Indonesia akan menurun
Liga335 – BMKG mencatat penurunan suhu panas di Indonesia
Suhu panas yang terjadi di Indonesia bukanlah gelombang panas, dan suhu maksimum harian telah mulai menurun
Jakarta (ANTARA) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa fenomena suhu panas yang tercatat di Indonesia dalam beberapa hari terakhir telah mulai menurun.Suhu panas di Indonesia bukanlah gelombang panas, dan suhu maksimum harian telah mulai menurun. Masyarakat tidak perlu panik dan tetap waspada,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Jakarta, Selasa.
Menurut Karnawati, gelombang panas biasanya terjadi di wilayah yang terletak di lintang tengah hingga tinggi, baik di Belahan Bumi Utara maupun Selatan, serta di wilayah geografis yang berdekatan dengan daratan luas, benua, atau sub-benua. “Wilayah Indonesia terletak di kawasan khatulistiwa, dengan kondisi geografis kepulauan yang dikelilingi oleh perairan luas,” jelas Karnawati. Dia mencatat d bahwa sejak pekan lalu hingga Selasa, sebagian besar negara di Asia Selatan masih dilanda gelombang panas.
Badan Meteorologi di negara-negara Asia, seperti Bangladesh, Myanmar, India, Tiongkok, Thailand, dan Laos, telah melaporkan suhu panas yang mencapai di atas 40 derajat Celcius yang berlangsung selama beberapa hari terakhir, dengan rekor suhu tertinggi baru tercatat di wilayah masing-masing.Mengenai lonjakan suhu maksimum yang mencapai 37,2 derajat Celsius di Ciputat, Tangerang Selatan, pekan lalu, Karnawati mengatakan hal itu hanya terjadi selama satu hari, tepatnya pada 17 April 2023.”Suhu tinggi tersebut telah turun, dan saat ini, suhu maksimum yang teramati berada pada kisaran 34-36 derajat Celsius di beberapa lokasi,” ujarnya.
Menurut Karnawati, variasi suhu maksimum 34-36 derajat Celsius di Indonesia masih berada dalam kisaran normal klimatologis dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Secara klimatologis, terutama di wilayah Jakarta, suhu maksimum cenderung mencapai puncaknya selama periode April-Juni p “Periode tersebut, kecuali periode Oktober-November,” ujarnya. Karnawati menjelaskan bahwa berdasarkan karakteristik fenomena tersebut, suhu panas yang terjadi di Indonesia merupakan fenomena yang disebabkan oleh gerak semu matahari, yang merupakan siklus normal dan terjadi setiap tahun.
Dengan demikian, suhu udara panas juga kemungkinan besar akan terjadi pada periode yang sama setiap tahun.