Anak Panda Baru Lahir Mendorong Citra Indonesia dalam Konservasi Satwa Liar

Anak Panda Baru Lahir Mendorong Citra Indonesia dalam Konservasi Satwa Liar

Anak Panda Baru Lahir Mendorong Citra Indonesia dalam Konservasi Satwa Liar

Liga335 – Indonesia telah menyambut kelahiran anak panda pertama di Taman Safari Indonesia, dari sepasang panda raksasa, Cai Tao (jantan) dan Hu Chun (betina), yang dibawa langsung dari China pada tahun 2017. Anak panda jantan tersebut lahir pada Rabu (27 November) dan diberi nama Satrio Wiratama oleh Presiden Prabowo Subianto. Kelahiran anak panda, yang akrab disebut Rio, merupakan keberhasilan nyata dari upaya konservasi yang sejalan dengan diplomasi dan persahabatan internasional.

Dr. Dwi Sendi Priyono, dosen di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), menyatakan bahwa kelahiran anak panda yang sukses menunjukkan kemampuan Indonesia dalam melindungi satwa liar.
Ia menjelaskan bahwa pembiakan panda sangat kompleks karena periode subur panda tidak dapat diprediksi dan hanya berlangsung dua hingga tiga hari setiap tahun.

Panda juga memiliki karakteristik hormonal yang berbeda dari spesies lain, sehingga perkawinan alami di penangkaran menjadi sangat menantang. “Karena kompleksitas pembiakan panda, tingkat keberhasilan global pembiakan panda di penangkaran “Persentase keberhasilan pembiakan hanya sekitar 30 persen,” katanya pada Selasa (27 Januari). Menurut Dr.

Priyono, Taman Safari Indonesia memainkan peran penting dalam konservasi, pendidikan, dan rekreasi. Selama proses pembiakan, induk panda memerlukan pemantauan hormonal yang ketat, pengamatan perilaku intensif, dan inseminasi buatan, bekerja sama dengan ahli dari China.
Oleh karena itu, pertumbuhan dan perkembangan Rio harus dipantau dengan cermat sebelum ia dikembalikan ke China pada usia dua hingga empat tahun.

“Pembiakan ex situ bertujuan untuk menjaga keragaman genetik dan menghasilkan individu yang cocok untuk dilepaskan ke alam liar dengan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi, sehingga meningkatkan populasi global,” jelas Dr. Priyono.
Bagi Dr.

Priyono, Rio telah menjadi spesies andalan, menarik pengunjung ke Taman Safari Indonesia dan meningkatkan kesadaran publik tentang konservasi satwa liar. Selain itu, kesuksesan ini menunjukkan kemampuan Indonesia untuk melindungi spesies endemik lainnya seperti orangutan, harimau Sumatra, dan badak Jawa, sehingga meningkatkan. Memperkuat citra negara dalam bidang pembiakan dan konservasi satwa liar.

“Ke depannya, strategi diplomatik seperti ini dapat diteliti lebih lanjut dan berpotensi diterapkan untuk konservasi keanekaragaman hayati endemik,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *